Pengalaman Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan

Pengalaman Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan

Berurusan sama institusi pemerintah itu buatku adalah hal yang perlu diminimalisir. Males aja gitu, mesti berurusan sama birokrasi dengan segala aturan plus antriannya yang biasanya mengular. Namun kali ini, mau tidak mau, aku harus berurusan dengan pemerintah yaitu dengan BPJS Ketenagakerjaan. Sebenarnya ini adalah dana pensiun namun bisa dicairkan tanpa harus menunggu usia pensiun si pemilik.

Kejadian ini terjadi 3 tahun yang lalu, aku mau sharing aja ceritanya siapa tau ada yang membutuhkan informasinya. Awalnya aku yang buta sama sekali mengenai prosedur ini melihat status temanku di path.

yarri path
Ya Allah zaman dulu masih ada path haha

**

Dari status dialah aku langsung bertanya sama temanku yang sudah lebih dulu mencairkan dana BPJS Ketenagakerjaan (dulu namanya Jamsostek). Begini isi chatku dengannya:

yarri-wa.png

Thanks kak, dia sangat informatif sekali menjawab pertanyaanku. Liat sendiri kan aku cuma nanya sebaris dia jawabnya sangat rinci dan jelas sekali hahaha

Oke, jadi berbekal informasi itulah aku beranikan diri untuk mencairkan dana BPJS Ketenagakerjaanku. Karena situasi temanku saat Bulan Ramadhan, jam 4 pagi pun orang sudah banyak yang mengantri. Aku berpikir kayaknya ga bakal sanggup keluar dari subuh demi ngantri ginian. Jadi datanglah aku pagi-pagi (tapi ga subuh juga) ke kantor BPJS Ketenagakerjaan di matraman. Sampai sana aku udah ga berharap dapat kuota sebenarnya, jadi bertanyalah ke pak satpam di depan. Kurang lebih begini percakapannya:

PS: Pak Satpam

Sy: Saya

 

PS: Ada yang bisa dibantu, bu?

Sy: Ya pak, saya mau mencairkan BPJS Ketenagakerjaan

PS: Masih bekerja?

Sy: Tidak pak.

PS: Ibu kuota hari ini sudah penuh, seharusnya ibu datang lebih pagi

Sy: Oh gitu pak, prosedurnya memang seperti apa untuk pencairan dana BPJS Ketenagakerjaannya?

PS: Jadi ibu datang pagi-pagi untuk ambil nomor antrian, setelah itu saat loket sudah dibuka namanya akan dipanggil.  Blablablabla (panjang deh aku sampe lupa bapaknya ngomong apa aja)

Sy: Wuaduh.. Mesti pagi-pagi ya pak..

PS: Iya, tapi ibu mau yang lebih gampang?

Sy: Wah, gimana tuh pak?

PS: Ibu bawa berkas-berkasnya?

Sy: Bawa pak, lengkap. (Semua berkas yang temanku bilang udah kusiapkan)

PS: Ibu punya Bank BJB?

Sy: Gak punya pak

PS: Yaudah gpp, ibu tau Bank BJB di matraman? Di ruko sebelum perempatan lampu merah matraman. Nah, ibu datang ke sana dan langsung ketemu satpamnya bilang aja mau mencairkan dana BPJS Ketenagakerjaan. Nanti ikuti prosesnya saja isi formulir dan lain sebagainya. Insya Allah satu jam bisa selesai.

Sy: Wah, makasih banyak infonya pak.

Alhamdulillah ketemu bapak yang baik hati, namanya Pak Agus Kurnia. Terima kasih pak, semoga dirimu diberikan rezeki yang lancar dan dilindungi terus sama Allah..

Bahkan sampai aku mau pamit pun dia masih nanyain loh “Ibu tau ga tempatnya?” dan berusaha menjelaskan jalannya hehehe

Berangkatlah diriku menuju Bank BJB matraman sesuai arahan pak satpam. Sampai sana bertemu pak satpam dan aku ikuti seluruh petunjuk darinya. Kita akan disuruh mengisi formulir untuk membuka rekening Bank BJB dan menunggu pembuatan tabungan sekaligus proses pencairan BPJS Ketenagakerjaan. Sesuai perkataan Pak Agus Kurnia, kurang lebih aku hanya satu jam saja di sana. Setelah buku tabungan dan katu atm kupegang, diinfokan dana akan cair selama 2 minggu hari kerja. Ga perlu lagi berurusan sama birokrasi yang ribetnya minta ampun. Alhamdulillah semua berjalan lancar, saking lancarnya duitnya pun langsung hilang seketika :’)

Sharing is caring ^^

5 Tipe Sebah

Sebah apaan sih?

Ada yang pernah denger kata ‘sebah’ sebelumnya?

Di keluarga, aku menyebut salim atau cium tangan itu dengan sebutan sebah. Jadi ada tradisi di keluarga setelah mandi pagi atau sore kita disuruh sebah ke orang tua. Sebelum keluar rumah ataupun masuk ke rumah pun kami diajarkan untuk sebah ke orang tua.

Di Indonesia cium tangan juga menjadi sebuah budaya atau tradisi. Di sekolah khususnya masih banyak kita temukan siswa yang mencium tangan gurunya. Intinya, cium tangan kita lakukan kepada guru, orang tua atau pada orang yang lebih tua dari kita sebagai bentuk pernghormatan.

Nah, timbullah pemikiran kenapa sih sebutan cium tangan atau sebah itu? Emang dari bahasa apa sih? Penasaran lalu coba googling, namun hasilnya pun nihil. Lalu iseng bertanyalah ke suami (dia bisa Bahasa Arab), sebah itu dari Bahasa Arab kah? Dia bilang, sepengetahuan dia, enggak ada tuh Bahasa Arab sebah. Mungkin, lagi-lagi mungkin, berdasarkan analisis pribadi sebah diambil dari kata Sobakhul Kheir (Selamat pagi). Sobah lalu bergeser menjadi sebah. Itulah mengapa juga dalam tradisi sesudah mandi pagi kami disuruh sebah pada yang lebih tua. Wallahu a’lam.

Asal Mula Cium Tangan

Di atas aku sudah cerita sedikit mengenai sebah dalam budayaku. Sekarang, aku mau membahasnya secara lebih global dengan istilah cium tangan. Dari segi agama islam, hukum cium tangan adalah mubah (boleh).

عن أسامة بن شريك قال: قمنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبلنا يده

“Dari Usamah bin Syarik, kami bertemu Rasulullah lalu kami mencium tangannya” (HR. Ibnul Muqri dalam Taqbilul Yad, berkata Ibnu Hajar dalam Al-Fath sanad nya kuat).

Cium tangan menjadi budaya di Indonesia yang biasa dilakukan oleh yang muda kepada yang tua. Selain itu kepada orang yang dianggap alim atau berilmu. Dapat kita temukan bahwa biasanya para murid mencium tangan gurunya.

Sebenarnya budaya ini tidak ada yang salah dan dapat dikatakan sebagai budaya yang baik. Permasalahannya adalah bagaimanakah cara mencium tangan yang benar? Saat ini sering ditemukan berbagai macam gaya dalam mencium tangan. Berikut beberapa tipe cium tangan yang aku temukan:

  1. Cium Tangan Menggunakan Mulut

Cium tangan jenis ini banyak ditemui di negara barat yang diperuntukkan untuk lawan jenis. Biasanya dilakukan oleh laki-laki kepada wanita yang dikaguminya. Mereka akan sedikit membungkukkan badan lalu mendekatkan bibirnya (ada yang tidak sampai menyentuh) ke tangan perempuan. Di Indonesia pun bisa kamu temukan yang seperti ini loh, pernah lihat?

  1. Cium Tangan Menggunakan Pipi

Nah ini, aneh enggak sih? Aku tuh pas lihat ada anak yang cium tangan ke orang tua, guru, atau ke orang yang lebih tua dari dia tuh tangannya ditempel ke pipinya. Pipi, iya pipi. Kenapa ke pipi sih? Mau ngasih tau kalo pipinya tembem?

WhatsApp Image 2019-09-04 at 1.23.29 PM (2)
http://www.instagram.com/katamuslimah.id
  1. Cium Tangan Menggunakan Jidat

Aku perhatikan ini juga tipe salaman yang cukup ‘populer’ digunakan sama anak-anak. Cium tangannya ditempel ke jidat. Haduh, haduh bro sist mau sujud?

WhatsApp Image 2019-09-04 at 1.23.29 PM (1)
http://www.instagram.com/katamuslimah.id
  1. Cium Tangan Bolak-Balik

Bolak-balik nih, bener-bener cium telapak dan telapak tangan hehe. Biasanya ustad-ustad yang dicium seperti ini sama muridnya. Mungkin mereka melakukan ini sebagai bentuk takzim kepada gurunya.

  1. Cium Tangan Menggunakan Hidung

Menurutku, cium tangan yang benar itu ya tangannya ditempel ke hidung. Secara logika, dari kata ‘cium tangan’ saja, cium itu kan menggunakan indra penciuman. Manusia mencium menggunakan hidung, bukan?

WhatsApp Image 2019-09-04 at 1.23.29 PM
http://www.instagram.com/katamuslimah.id

 

Lalu pertanyaannya, Menurut kamu cium tangan yang benar itu yang seperti apa sih?

Buat Anak Kok Coba-Coba?

Hayooo denger kalimat ini jadi ingat apa hayooo? Hahahaha kalimat yang ada di judul ini sih sebenarnya salah satu tagline sebuah brand yang menurutku berhasil mencuri perhatian masyarakat. Enggak usah sebut merk yah, nanti dikira endorsement lagi😜

Dari sisi iklan dan branding, kalimat ini menang banget dan jadi top of mind orang-orang. Tapi aku bukan mau bahas kalimat iklan itu melainkan dampak dari kalimat tersebut.

Dampak apa sih? Kalimat gitu aja kok, lebay amat sih

Ya, dampaknya ada buatku dan menjurus ke negatif sih. Jadi gini, sekalian mamak mau curhat boleh yah :))

Aku punya anak laki-laki yang lagi lucu-lucunya. Iya luci, kadang bikin ngelus dada juga wakakak
Sebagai mamak muda (ga mau dibilang tua :p) apalagi ini anak pertama, pasti banyak baca sana-sini, nanya sana-sini, gabung bersama mamak-mamak yang lain seputar info dunia parenting. Nah, ternyata ilmu soal parenting ini sudah jauh berkembang dibandingkan yang lalu serta banyak mahzabnya.

Lalu mulailah sebuah persoalan, mamak kebingungan dengan banyaknya informasi ini. Dulu zaman sekolah kayaknya sumber belajar ya guru sama perpustakaan aja deh, terbatas sih tapi jadi jelas mau kemana tujuannya. Nah sekarang, ilmu dan informasi terbentang lebar dengan adanya internet. Kekurangannya mamak jadi kebingungan sendiri mau ngikut yang mana, harus lebih jeli mensortir dan menyaring berbagai informasi yang didapat.

Balik lagi soal ilmu parenting ini, aku sekarang lagi menghadapi masa-masa ngasih makan anak. Zaman dulu ngasih makan anak mah udah dari umur anak 3 bulan. Dikasih aja tuh pisang dikerok. Nah sekarang? Tidak semudah itu, Fergusso!

Kalo menurut dokter zaman sekarang, MPASI (Makanan Pengganti ASI) diberikan setelah anak usia 6 bulan karena kandungan dari ASI ibu di usia 6 bulan sudah tidak mencukupi bagi si anak makanya perlu ditambah kandungan-kandungan lain yang berasal dari makanan. Kandungan yang seharusnya diberikan itu karbohidrat, protein (ini penting, untuk mencegah stunting), lemak, dan vitamin. Ada juga yang MPASI dini untuk kasus-kasus tertentu misal berat badan (BB) anak yang kurang dari target.

Nah, pemberian makanan untuk anak ini juga bervariasi modelnya. Ada orangtua yang strict sama makanan homemade alias bikinan rumahan dan ada juga beli yang instan tinggal seduh air panas aja. Sejauh ini aku jarang banget nget kasih anak bubur instan jadi pasti bikin sendiri.

Gini nih mamak-mamak yang belum biasa ke dapur tapi mesti masak buat anaknya. Sehari dua hari sih masih oke, seminggu dua minggu mulai bingung masak apa lagi yah hahaha
Sebagai mamak masa kini cobalah saya googling cari-cari inspirasi menu buat MPASI anak, eh dapet ternyata banyak mamak-mamak yang udah kasih anaknya bebas banget. Segala tempe goreng, santan, udang, telur juga dikasih. Prinsip MPASI zaman sekarang ada istilahnya menu 4 bintang. Isinya ada karbohidrat, prohe (protein hewani), prona(protein nabati), dan lemak. Jadi mamak masak untuk menu keluarga sekaligus untuk si kecil jadi bedanya sebelum masakan dibumbui gula dan garam, makanan dipisahkan untuk si kecil.

Disinilah kegalauan mamak-mamak ini. Teori para dokter zaman sekarang ini sangat bertolak belakang dengan teori mamak-mamak zaman dulu. Bahan-bahan yang mamak-mamak zaman dulu gunakan sangat terbatas sehingga terasa menu yang diberikan itu-itu saja. Sebagai anak yang taat (dan juga awam) nurutlah mamak sama nyokap. Ga boleh santan, jangan dulu ikan, jangan dulu telur, dll. Pas ingin coba menu baru ke anak, tercetuslah kalimat itu “Buat ke anak kok coba-coba sih”.
Laaahh, bhaiiqqqueeee…..

Awalnya ku pikir korban iklan nih, tapi pas aku ingin juga mencoba produk baru buat anak eh tanggapannya kurang lebih juga gitu. Trus aku bingung, wajar dong ‘mencoba’ sesuatu yang baru untuk anak. Ini anak pertama, aku belum punya pengalaman sebelumnya dan reaksi tiap anak pun beda-beda. Lalu kalau bukan ‘mencoba’ kata apa yang tepat untuk menggambarkannya?

Kalimat iklan “Buat anak kok coba-coba” ini menggambarkan seakan-akan anak itu kelinci percobaan dan si ibu berdosa besar jika mencoba produk untuk diberikan ke si kecil. Karena anak-anak ini tidak berdosa dan tak tau apa-apa, maka harus diberikan yang sudah pasti-pasti saja seperti kebanyakan orang. Kalau gitu sebagai orangtua kita belajarnya darimana? Bukankah setelah kegagalan atau kesalahan ada hal yang disebut resiko? Jika salah ya perbaiki dan jangan diulangi. Rasanya jadi ibu itu tuntutannya berat sekali, akankah harus seperti yang Andra and The Backbone bilang yaitu menjadi “Manusia Sempurna”?

Pengobatan Herbal

Siapa di sini yang pernah ngerasa sakit terus ga sembuh-sembuh?

GUEH

*Apaan sih nanya sendiri jawab sendiri

Tapi bener deh, pernah ngerasain virus lagi ping pong gitu di rumah. Muter-muter aja gitu sakitnya. Baru beres anak, ga lama ponakan, abis itu suami, abis itu aku, terus anak lagi kena huhu ga ada abisnya.

Terus ngobatinnya gimana? Masa bolak-balik dokter terus? Lelah hayati. Udah gitu aku tipikal yang ga mau dikit-dikit minum obat. Aku usahain istirahat dulu, tambahin dopping atau sama obat-obatan herbal.

Nah, kali ini aku mau bagi resep obat herbal turun-menurun untuk beberapa penyakit yang lumrah kita temui sehari-hari.

1. Masuk angin
Kata orang dulu ga boleh mandi malem-malem takut masuk angin. Kalo keluar rumah malem-malem pun kudu pake jaket biar ga gampang masuk angin. Nah, macem-macem ya. Intinya masuk angin tuh kondisi badan yang ga enak, bisa jadi berat di suatu titik badan (kayak punggung atau pundak). Aku tim #antikerokkerokclub sih hehe
Bukan apa-apa, aku tipikal yang ga bisa kena panas dikit (kayak koyo, balsem atau sejenis fresh care) dan sakit dikit (pake koin itu sakit banget ya Lord T^T). Maapkan Putri Solo ini😝

Trus kalo masuk angin pake apa dong? Kalo masuk anginnya lari ke perut dan suka jadi mencret dan kentut-kentut, aku langsung bikin madu plus jahe.
Parut kurang lebih seruas jahe lalu peras hingga keluar airnya. Lalu campurkan dengan madu. Rasanya emang pedes tapi campur manis. Ga usah banyak-banyak sampe segelas, dikit aja udah berasa kok. Abis minum itu aku biasanya langsung sendawa dan kentut-kentut tanda anginnya keluar👌

Cara untuk mengobati masuk angin yang lain yaitu aku minta pijetin. Jadi, tahukah kamu kalau pusat angin tuh ada di punggung kita yang selurusan sama ketiak? Kalau kamu tarik garis dari ketiak ke arah punggung, maka di sebelah kanan dan kiri perbatasan itu adalah tempatnya. Cubit besar-besar, ambil dagingnya sebanyak mungkin untuk mengeluarkan anginnya. Kalau beneran masuk angin nanti akan merah. Ohya, dicubit itu ga sakit kok, kayak dicubit siku kita. Cobain deh!

2. Maag
Nah, kalo ini emang penyakit keluarga. Hampir semua punya maag wakakakak. Sampe-sampe ya kita ga mau tuh makan ketan putih sebelum kita nyentuh nasi, takut melilit cyin.

Obat tradisional untuk maag ini kudapat dari temennya bokap. Dia bilang kalo lagi maag sampe melilit buat sagu sama gula merah. Caranya masak air dan campur dengan gula merah. Jika gula merah sudah larut saring dulu biar kotoran yang ada di gula merah enggak ikut. Lalu masukkan tepung sagu ke larutan air gula merah tadi. Aduk terus dengan api kecil hingga mengental seperti dodol. Konsumsi satu sendok makan ini sebelum makan. Ini tuh jurus andalan banget karena bukan obat kimia jadi mau dimakan beberapa kali sehari juga ga masalah.

3. Batuk
Pas lagi nulis ini kondisiku juga lagi batuk-batuk huhu mengganggu banget. Kalau batuk berdahak lebih gampang untuk mengeluarkannya kali ya. Kalau batuk kering ini kadang yang suka menyiksa. Jika batuk kering melanda, aku langsung bikin kecap plus jeruk nipis. Jadi aku potong jeruk nipis dan campurkan ke satu sendok makan kecap.

Ohya satu lagi, jauhkan es dulu ya. Minum usahakan pakai air hangat. Peer sih emang, tapi demi kesembuhan ribet dikit gak masalah dong?

Bayi
Nah, kalau cara mengobati batuk untuk bayi gunakan daun saga. Cuci terlebih dahulu daun saga lalu rendam menggunakan air panas. Tunggu hingga kurang lebih sejam lalu minumkan airnya untuk bayi. Banyak ibuk-ibuk bilang ini topcer.

4. Migrain
Aku tipikal yang kadang kalo kecapean atau ada pikiran dikit suka migrain. Sakitnya itu bener-bener pas di atas alis nyut-nyutan gitu. Pastinya itu ngeganggu aktivitas banget. Cara mengobati migrain ala aku sih TIDUR. Serius. Se-simple itu. Bangun-bangun tuh enakan kepala. Soalnya dipijit-pijit juga tetep aja masih sakit. Ohya, satu lagi untuk mengurangi migrain ini ya jangan terlalu banyak pikiran, mood dijaga biar selalu happy. Nah, ini yang bisa ngontrol cuma diri kita sendiri. Percaya deh, bisa mengendalikan emosi dengan baik juga bisa mempengaruhi kesehatan badan kita 🙂

5. Flu
Ini biasa disebut penyakit langganan nih. Kalo orang dulu bilangnya flu atau pilek juga disebut sama ‘pangkal’ penyakit alias awal mula dari semua penyakit. Kecapean dikit atau masuk angin dikit larinya ke flu. Obatnya? MAKAN yang banyak dan TIDUR (istirahat) yang cukup. Virus itu menyerang badan kita saat imun lagi ga oke alias kecapean. Jadi memang tidur yang cukup itu penting untuk kesehatan. Ingat kan anak kecil susahnya disuruh tidur siang (bahkan mungkin kita juga dulu seperti itu). Eh sekarang pas udah gede mau nyari waktu buat istirahat bobo siang aja sulitnya setengah mati :’)

Bayi
Kalo buat bayi ada pengobatan herbalnya untuk flu atau pilek ini nih. Ku juga baru tau dari mertua. Cara mengobati herbal flu dan pilek pada bayi itu pake yang namanya Gambir. Ini bukan stasiun ya, bukan. Gambir ini cara pemakaiannya dikasih air dikit hingga larut terus gosok ke hidung dan tulang hidung anak sebelum tidur.

Nah, itu tadi beberapa penyakit yang suka muncul dikeseharian kita beserta cara pengobatan herbalnya. Semoga bermanfaat dan kalau kiranya masih belum sembuh juga atau tak kunjung membaik segera periksa ke dokter ya. Bukan berarti dokter itu musuh loh 🙂

Rahasia Dibalik Nama Ringkas Cuma Satu Kata

Orang: Halo, nama gue **** kalo lo siapa?
Me: Hai, Zarirah
Orang: Hah? Siapa?
Me: Za ri rah
Orang: Susah banget sih namanya, panggilannya apa?

Ini sih sering banget kejadian…
Dari mulai dibilang susah namanya, kepleset nyebutinnya, sampe kepo to the max soal nama pernah aja nemuinnya. Seringnya sih kalo ketemu orang pertama kali sering salah nyebut, ya Jarira, Jariyah, Jazeerah (tv kali ah) macem-macem lah.

Ohya, kadang tuh suka sampe bingung dan hampir gregetan ada apa sih dengan huruf Z kok kayaknya susyeh banget buat nyebutnya? Ada apa ini ada apaaaaa Tuhaaann😫😫😫

Kejadian ini persis seperti lawakan soal huruf F dan P buat orang Sunda😞😞

Ini baru soal lafal dan penyebutan ya. Belum lagi soal tulisan. Orang-orang sering banget cuma nulis namaku tanpa huruf H jadi cuma ‘Zarira’ bukan ‘Zarirah’. Duh gemeesssnyaaaaa, bahkan sampai yang udah temenan lama pun nulis nama di kontaknya salah. Kusedihlah. Apakah kamu yang baca ini salah satunya? 😕 Tolong diganti dong sist and bro.

Ada lagi pertanyaan yang muncul:

Orang: Nama panjang lo siapa?
Me: Zarirah
Orang: Zarirah siapa?
Me: Zarirah aja
Orang: Yang bener?
Me: Iya, Zarirah doang
Orang: Jadi, Zarirah aja apa Zarirah doang?

Oke dia mulai mencoba melucu😑

Nah, muncullah pertanyaan kenapa sih kok namaku itu cuma satu kata aja? Aku sih dulu jawab sekenanya aja ‘Biar gampang buletin pas ujian’ hahaha. Namun, setelah 27 tahun hidup di dunia ini barulah ku tau alasan sebenarnya mengapa. Suatu hari kudapat sebuah tulisan yang menjawab semuanya, coba baca tulisan di bawah ini:

Dianjurkan memberi nama anak itu mufrad (satu kata) atau idhafah (bentuk penyandaran)

Disunnahkan nama itu 1 kata saja semisal “Yusuf” saja, atau idhafah semisal “Abdur Rahman”. Karena demikianlah kebiasaan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan para sahabat. Nama mereka: Muhammad, Abu Bakar nama aslinya Abdullah, Umar, Utsman, Ali, Abu Hurairah nama aslinya Abdurrahman, Thalhah, Ukasyah, Hudzaifah, Qatadah, Sufyan, Abdurrahman, Hanzhalah, dll.

Demikian juga para ulama salaf: Imam Asy Syafi’i namanya Muhammad, Imam Ahmad (bin Hambal), Imam Malik (bin Anas), Abu Hanifah nama aslinya Nu’man, Al Bukhari nama aslinya Muhammad, An Nawawi nama aslinya Yahya, Ibnu Hajar nama aslinya Ahmad, Ibnu Taimiyah nama aslinya Ahmad, Ibnul Qayyim nama aslinya Muhammad, dst.

Perhatikan nama-nama mereka cuma 1 kata atau idhafah.

Dan dimakruhkan nama murakkab (beberapa kata), seperti “Muhammad Shiddiq”, “Muhammad Sa’id”, “Yusuf Ismail”, atau semisalnya. Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Tasmiyatul Maulid mengatakan:

و تكره التسمية بالأسماء المركبة، مثل : محمد أحمد، محمد سعيد، فأحمد مثلاً فهو الاسم، محمد للتبرك … وهكذا. وهي مدعاة إلى الاشتباه والالتباس، ولذا لم تكن معروفة في هدي السلف، وهي من تسميات القرون المتأخرة

“Dimakruhkan nama murakkab (bersusun) seperti: Muhammad Ahmad, Muhammad Sa’id, dll. Biasanya namanya “Ahmad” saja tapi ditambahkan “Muhammad” untuk tabarruk (ngalap berkah). Dan nama-nama seperti ini mengakibatkan kerancuan. Oleh karena itu tidak pernah dikenal di masa salaf. Nama-nama seperti ini adalah kebiasaan orang belakangan” (Tasmiyatul Maulud, hal. 13)..

Syaikh Ibnu Jibrin mengatakan:

هذه أسماء جديدة لم تكن معروفة فيما سبق، والأصل الأسماء المفردة أو المضافة كعبد الله وعبد الرحمن أو زين العابدين ونحوه، فأما الأسماء المبدوءة بمحمد كمحمد أمين ومحمد سعيد هذه لا أصل لها فيما نعلم

“Nama-nama seperti ini adalah nama-nama model baru, yang tidak dikenal di masa salaf. Asalnya nama itu mufrad (tunggal) atau idhafah seperti “Abdullah” atau “Zainul Abidin” atau semisalnya. Adapun nama-nama bersusun seperti “Muhammad Amin” atau “Muhammad Sa’id” ini tidak ada asalnya.

Adapun sebagian ahli ilmu atau bahkan sebagian saudara kita menggunakan nama murakkab (termasuk kami sendiri), tentu saja kita hendaknya memberi udzur dan berprasangka baik, bisa jadi orang tua mereka belum mengetahui tuntunan tentang hal ini dan juga hukumnya tidak sampai haram dan berdosa.

Jika nama kurang panjang, bisa gunakan nama kuniyah. Misal, namanya “Yusuf”, kemudian ditambah kuniyah “Abu Shalih”, menjadi “Abu Shalih Yusuf”.

Jika masih kurang panjang, bisa ditambahkan nasab ayah. Semisal nama ayahnya adalah “Ahmad” maka menjadi “Abu Shalih Yusuf bin Ahmad”.

Jika masih kurang panjang, bisa ditambahkan nisbah kepada negerinya. Semisal Yusuf adalah orang Jawa, maka “Abu Shalih Yusuf bin Ahmad Al Jawi”.

Wallahu a’lam.

NB:
Sebetulnya orang-orang kita zaman dahulu sudah menerapkan sunnah ini, mereka simple sekali dalam memberi nama anak-anaknya: Susilo, Mulyono, Paijo, Suratno, Slamet, Painem, Juminten, Hastuti, Istiqomah, dll. Simple bukan?

Jadi begitulah, itu sebenarnya sunnah nabi. Selama ini aku pun ngerasa ga ada yang aneh dengan nama satu karena aku berada di lingkungan (keluarga) yang memang orang-orangnya pun punya nama satu kata. Awalnya aku pikir ini semacam tradisi atau kebiasaan saja, tapi sebenarnya ada makna dibaliknya.

Aku juga ada sebuah cerita soal nama ini. Dulu pernah ada tugas kuliah per kelompok dan aku kaget pas liat namaku di cover makalah tertulis ‘Zarirah Achmad‘. Walaaahh, ga taunya temanku ini asal ngambil nama dari Facebook. Memang di Facebook aku tulis 2 kata namaku karena pas buat Facebook minimal harus 2 kata namanya. Namaku ini memang bisa dipanjangin kok. Gampang aja kalo mau dipanjangin tinggal tambahin nama ayah dan marga aja di belakangnya.

Tapi kebayang ga sih kalo orang-orang patokannya sama Facebook? Kalo nama Facebooknya SarahImyutCekali, trus piye?

Hiatus is over, baby!

HAAIIII LONG TIME NO SEE~

Ya ampun aku kangen loh udah lama banget ga nulis karena kondisi yang ada *jiee
For the past one year, my life was just like rollercoaster hehe
Ibarat di KTP nih, statusku dalam setahun terakhir ini udah berubah dua kali. Kurang lebih kayak gini nih:
Lama menjomblo –> dilamar –> married –> menjadi mamak-mamak

Yhaaa~ jadi mamak sekarang udah sambil megang bocil nih. Jujur sebenarnya banyak banget yang bisa dishare tapiiii mamak belum bisa bagi waktu jadi masih keteteran sana-sini dan akhirnya blog ini sempat vakum huhu maafkan aku.

Bener-bener ga nyangka selama setahun ini hidupku berubah 180 derajat. Alhamdulillah sehabis menikah aku langsung diberikan kepercayaan hingga hamil. Mungkin dibilang belum siap, yaiya juga. Dulu sebelum nikah temen pada nanya ‘Lo yakin? Dah siap buat nikah?’ yaaa jawabanku pasti normatif aja kayak insya allah gitu. Dalem hati klo dikorek lagi mah belom siap kalik wkwkwkwk
Lha wong masak aja belom becus, biasa ongkang-ongkang kaki di rumah, ngurus diri sendiri masih sekenanya aja nah ini udah disuruh ngurus anak orang. Gimana coba😂😂
Tapi yaa, bener deh kalo nunggu siap itu entah kapan. Dipikir-pikir kapan sih aku akan siap? Setahun? Dua tahun? Lima tahun? Bok, keburu tuir eike.. Jadi yaudah bermodal nekat dan niat baik ini bismillah..

Akhirnya dapatlah rumusan bahwa segala sesuatu di dunia ini ya harus dijalani jangan hanya dipikirin. Intinya harus ‘nyemplung’ dulu dan baru deh kita bisa beradaptasi dan berusaha tahan banting dengan segala hal yang kita lalui nanti.

Okehlah, semoga postingan ini menjadi awal yang baik dan penyemangat buat diriku sendiri supaya bisa produktif kembali. Semoga aku dan kalian yang baca ini dalam keadaan sehat semua sehingga bisa menjalani aktivitasnya masing-masing. Semangat! ^^

Kecil Tapi Mengganjal

Teman-teman, suka lihat kan jenis sajadah masjid yang seperti ini?

Karpet gulung masjid

Bagus ya? Artistik memang. Ada yang gambarnya seperti potongan-potongan sajadah yang digabungkan dengan motif yang beragam.

Tapi dari sinilah permasalahan berasal. *jeng jeng jeng

Ada masalah apa nih sama karpet masjid?

Bentuknya bagus memang, artistik juga, namun hal ini jadi menghilangkan esensi sebenarnya dari shalat yang kita lakukan. Saya sering mendapati orang-orang yang menjadikan satu gambar sajadah itu sebagai ‘lahan’ shalat mereka sehingga merusak shaf yang ada. Jika kamu perhatikan, shaf akan menjadi renggang dan tidak rapat karena mereka mungkin berpikir bahwa ‘ah kavling saya kan di sini, di situ kavling dia’. Duh, kalau boleh jujur saya gemaaaassss sekali melihatnya. Persoalannya adalah ini sering terjadi ketika sedang shalat berjamaah dan orang di sebelah saya menganut pemahaman itu. Saya kadang suka sengaja tidak berdiri di tengah gambar sajadah yang ada tetapi di agak minggir ke arah garis pembatas dan ada saja yang tetap melakukan itu sehingga jaraknya jadi renggang sekali huhu

Saya tidak bermaksud menyalahkan adanya inovasi dan juga kreasi para pengrajin sajadah yang ada, hanya saja entahlah apa adanya sajadah seperti ini menjadi salah satu penyebab bagi orang-orang sehingga berpola pikir seperti itu? Atau memang orang tsb yang belum paham mengenai ‘rapatkan shaf saat shalat’ ?

Namun, tidak semua masjid menggunakan jenis sajadah gulung bergambar sajadah ini, ada juga yang seperti ini:

Bentuk lain sajadah gulung di masjid

Nah, menurut saya penggunaan sajadah seperti di atas bisa meminimalisir pemikiran orang yang akan mengotak-kotakkan wilayah shalat kita. Apakah kamu suka juga mendapati kejadian seperti ini? Boleh share di kolom komentar yaa

*Sebelumnya saya minta maaf kalau ada yang merasa tersinggung, namun tulisan ini murni karena ‘kegatelan’ saya melihat fenomena yang ada di sekitar.