Nggak Ada Akhlak!

Nggak Ada Akhlak!

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Begitulah perkataan seorang Guru di Australia saat ditanya perihal cara mengajarnya di sekolah. Duh, pas baca kok ya nyeesss gitu akutu. Menurutku ini sangat relate sama kondisi di Indonesia sekarang. Sebagai cikgu pun aku merasa memiliki tanggung jawab secara moral untuk membentuk karakter siswa-siswi yang ku didik.

Viralnya perkataan “nggak ada akhlak” dari seorang selebgram itu ya ada benarnya juga sih. Bagian-bagian kayak gini tuh sebenarnya bukan hanya masuk ke pelajaran Agama saja tapi secara menyeluruh perlu ditegakkan dan dididik untuk siswa-siswi generasi sekarang. Pertanyaannya, apakah ini hanya tugas dari seorang cikgu di sekolah semata? Oh, tentu tidak.

Pelajaran moral itu mulainya dari ring pertama si anak, yaitu keluarga. Tugas cikgu di sekolah menguatkan dan menjadikannya sebagai sebuah pembiasaan agar nilai-nilai tersebut bisa terinternalisasi ke dalam diri anak. Jika di sekolah melihat beragam jenis kepribadian dan karakter anak, kadang aku suka menganalisis sendiri anak-anak mana yang dididik dengan baik di rumah dan mana yang mungkin kurang perhatian di rumah untuk hal-hal yang kaitannya dengan pendidikan karakter.

Aku pun salah satu orang yang termasuk sangat-sangat menjunjung tinggi perihal ini. Aku akan lebih respect pada anak yang dia biasa saja secara akademik tetapi punya akhlak dan moral yang baik dibandingkan secara akademik bagus tetapi secara akhlak dan moral minus. Dan ini adalah hal yang berulang kali kusampaikan kepada mereka.

“Di dunia kerja nanti pintar itu akan jadi syarat nomer sekian nak, tapi akhlak dan kecerdasan emosi yang baik dari seorang pekerja itulah yang akan menjadi prioritas”

Nggak ada akhlak! Kata yang viral sekaligus sebagai pengingat kita untuk memperbaiki moralitas anak bangsa

Hari ini ku mendapat cerita yang menyentuh perihal pendidikan yang diterapkan di luar negeri. Mereka lebih mengedepankan moral dan akhlak yang baik daripada akademik untuk kurikulum di sekolah. Harapanku semoga Indonesia bisa lebih maksimal dalam dunia pendidikan untuk dilandasi dengan pendidikan berbasis karakter.

Sebagai seorang orang tua dan cikgu, I encourage you to read this wonderful story..

Seorang guru di Australia pernah berkata:

“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Kerena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.

Inilah jawabannya:

Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.
Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.
Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
“Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

“Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya”

Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.
Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.
Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..
Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.
Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)
Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.
Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.
Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.
Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.
Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.
Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

dan mungkin masih banyak lagi pelajaran berharga lainnya, silakan temukan sendiri sisanya.

Apa yang di pertontonkan para orang tua pada anaknya, dalam mengantri menunggu giliran sungguh memprihatinkan.

Ada orang tua yang memaksa anaknya untuk “menyusup” ke antrian depan dan mengambil hak anak lain yang lebih dulu mengantri dengan rapi. Dan berkata “Sudah cuek saja, pura-pura gak tau aja !!”
Ada orang tua yang memarahi anaknya dan berkata “Dasar Penakut”, karena anaknya tidak mau dipaksa menyerobot antrian.
Ada orang tua yang menggunakan taktik dan sejuta alasan agar anaknya di perbolehkan masuk antrian depan, karena alasan masih kecil capek ngantri, rumahnya jauh harus segera pulang, dsb. Dan menggunakan taktik yang sama di lokasi antrian permainan yang berbeda.
Ada orang tua yang malah marah2 karena di tegur anaknya menyerobot antrian, dan menyalahkan orang tua yang menegurnya.
dan berbagai macam kasus lainnya yang mungkin anda pernah alami juga?

Ah sayang sekali jika orang tua, guru, dan Kementrian Pendidikan kita masih saja meributkan anak muridnya tentang Ca Lis Tung (Baca Tulis Hitung), Les Matematika dan sejenisnya. Padahal negara maju saja sudah berpikiran bahwa mengajarkan MORAL pada anak jauh lebih penting dari pada hanya sekedar mengajarkan anak pandai berhitung.

Ah sayang sekali ya… Mungkin itu yang menyebabkan negeri ini semakin jauh saja dari praktek-praktek hidup yang beretika dan bermoral?

Ah sayang sekali ya… seperti apa kelak anak2 yang suka menyerobot antrian sejak kecil ini jika mereka kelak jadi pemimpin di negeri ini?

Semoga ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua para orang tua juga para pendidik di seluruh tanah air tercinta. Untuk segera menyadari bahwa mengantri adalah pelajaran sederhana yang banyak sekali mengandung pelajaran hidup bagi anak dan harus di latih hingga menjadi kebiasaan setiap anak Indonesia. Mari kita ajari generasi muda kita untuk mengantri, untuk Indonesia yang lebih baik…

Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan, semoga dapat diambil hikmahnya 🙂

75 Tahun Merdeka, Apakah Pendidikan Indonesia Berubah?

Source: katakan.id

Hampir 6 bulan sudah dunia pendidikan dihadapi dengan tantangan yang luar biasa dikarenakan kondisi yang ada. Kenapa saya bilang luar biasa? Oh, tentu saja bagaimana tidak, semua guru tiba-tiba menjadi content creator dadakan. Kami diminta membuat konten yang menarik layaknya para youtuber sebagai bagian dari video pembelajaran. Mau mengeluh? Tidak menyelesaikan masalah. Lalu? Ya action! Cari solusi bersama. Saya selalu mengatakan kepada siswa saya bahwa untuk menghadapi tantangan dalam dunia kerja mereka nanti akan lebih berat. Untuk itu perlu adanya daya juang yang tinggi serta kemampuan beradaptasi yang baik bagi tiap individu. Nampaknya pesan itu kembali lagi ditujukan kepada diri saya sendiri.

Mengajar dalam situasi pandemi seperti ini justru mengubah pandangan serta wawasan saya secara menyeluruh mengenai bagaimana seharusnya seorang guru mengajar. Momen belajar di rumah pun saya coba manfaatkan mengikuti serangkaian webinar daring mengenai panduan serta tips dan trik bagaimana cara mengajar di masa pandemik ini. Dalam tulisan ini saya coba akan berbagi ilmu yang telah saya dapatkan. Memang sudah seharusnya tugas guru untuk mentransfer ilmunya, toh?

Baiklah, sekarang mari coba petakan kondisi sebelum dan selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Beginilah kurang lebih kondisinya:

Sebelum PJJSelama PJJ
Memperhatikan kebutuhan belajar siswaMemperhatikan kebutuhan belajar dan psikologis siswa
Akses sarana dan prasarana siswa samaAkses sarana dan prasarana siswa timpang
Guru punya kendaliGuru tidak punya kendali
Cara belajar seperti biasaCara belajar yang baru

Nah, ibarat kita sedang berada di medan perang tentu selayaknya perlu ada strategi untuk mencapai kemenangan. Setelah guru mencoba memetakan kondisi saat ini, sudah selayaknya pula guru wajib memiliki strategi dalam mengajar. Strategi ini disebut 5M. Apa saja itu?

Memanusiakan Hubungan

Sekarang guru berada dalam posisi tidak mempunyai kendali pada siswa karena pembelajaran tidak terjadi secara tatap muka, maka diperlukan adanya kolaborasi dengan orang tua/wali siswa. Ciptakanlah hubungan yang harmonis dengan para orang tua siswa sekaligus bertanya bagaimana kesiapan orang tua dalam PJJ ini. Apakah sarana dan prasarana di rumah memadai? Apakah orang tua selalu stand by di rumah atau orang tua melakukan work from office? Guru harus memahami hal ini dan menyelaraskannya dengan kegiatan pembelajarannya.

Memahami Konsep

Setelah hubungan dengan orang tua terjalin, sekarang saatnya membuat rencana pembelajaran yang menyesuaikan dengan situasi dan kondisi siswa. Pada dasarnya, selama pandemi ini rasanya tidak memungkinkan untuk melaksanakan pembelajaran secara ideal layaknya di sekolah. Guru perlu menelaah kembali Kompetensi Dasar (KD) apa saja yang perlu dicapai oleh siswa. Pemerintah pun sudah mengeluarkan ‘Kurikulum Pandemi’ sebagai panduan bagi guru yang telah mencakup tiga aspek capaian literasi, numerasi, dan pendidikan karakter.

Membangun Keberlanjutan

Selama proses pembelajaran diharapkan guru dapat memberikan panduan tugas secara rinci yang berisi kriteria-kriteria apa saja yang harus dicapai oleh siswa. Kemudian adanya pre-test menjadi penting untuk melihat ketercapaian hasil belajar siswa selama PJJ ini. Setelah itu berikan umpan balik agar para siswa tau bagian mana yang harus mereka tingkatkan dalam mata pelajaran tersebut. Terakhir, lakukanlah refleksi secara berkala untuk membantu siswa memetakan kemampuannya.

Memilih Tantangan

Dikarenakan kondisi saat ini, para guru seharusnya tidak terlalu kaku dalam menjalankan pembelajaran. Guru diharapkan bisa memberikan alternatif pilihan tugas. Contohnya guru bisa memberikan keleluasaan bagi siswa yang ingin membuat tugasnya dalam bentuk media yang dirasa sesuai dengan kondisinya baik itu melalui tulisan, gambar, atau mungkin video. Dari sini guru juga dapat melihat potensi siswa sekaligus harapannya dengan diberikannya kebebasan, hal ini bisa membuat anak-anak tertantang.

Memberdayakan Konteks

Sebelumnya sudah saya sampaikan mengenai kolaborasi guru dengan orang tua agar pembelajaran dapat terselenggara dengan baik. Nah, guru pun ternyata bisa berkolaborasi antar sesama guru. Kolaborasi antar mata pelajaran bisa dilakukan dengan menentukan KD yang berkesinambungan. Seperti contoh saya mencoba melakukan kolaborasi antara mata pelajaran Biologi, PJOK, serta Bimbingan dan Konseling (BK). Kami mendatangkan alumni yang sudah menjadi dokter untuk menjelaskan mengenai virus dan bakteri, kemudian PJOK melihat dari sisi kesehatan jasmani dan BK akan membahas dan merefleksikan kegiatan tersebut dalam bingkai self care.

Ini adalah salah satu contoh strategi yang bisa diterapkan oleh kita, para guru, dalam mengajar disituasi pandemi seperti ini. Sudah seharusnya disituasi seperti ini menjadi momen kontemplasi bagi kita semua. Sudah sejauh manakah kita bisa menyelenggarakan pembelajaran yang menyenangkan dan berpihak pada siswa?

Diary Toilet Training

Semenjak ada pandemi, tentu diri ini jadi lebih sering di rumah. Ngidelah pengen ngajarin bocah buat Toilet Training diusianya yang masih belum 2 tahun. Pikirku ya mumpung lagi ada di rumah gitu. Toh ada juga cerita dari beberapa ibuk-ibuk yang berhasil toilet training anaknya diusia yang sama.

Udah gitu sok ngidenya bertambah, mamak ini ceritanya senang tantangan. Dimulailah toilet training ini bertepatan dengan hari pertama puasa Bulan Ramadhan. Syedaaappp… Ujian puasaku bertambah, semoga seiring juga dengan bertambahnya pahalaku di surga. Aamiin..

Day 1 (24/04/2020)

Ga dipakein pampers abis bangun tidur.. Abis mandi langsung pake celana dalem deh. Sepanjang siang mamak terlalu bersemangat, sejam (bahkan setengah jam) sekali selalu ngajak ke kamar mandi bahkan saat dia abis minum langsung ngajak ke kamar mandi. Misua pun nyeletuk ‘Ya baru jg minum, ga langsung keluar juga kali’
Siang alhamdulillah aman, sore menjelang buka puasa datanglah pada krucils qeponaqan2qu ituuu.. Walhasil dia bahagia senang karena ada teman main. Sebelum buka puasa diajak ke kamar mandi ga mau.. Buka puasa dia minum banyak banget, liat orang minum apa dia mau juga. Walhasil bocorlaahh huhu yaudah diganti deh.. Eh selang 30 menit lagi pada main bocil-bocil bocor lagi dong hikksss. Hari pertama abis magrib ke atas gagal total pemirsa!

Day 2 (25/04/2020)

Dari pagi saja sudah bocor. Sehabis mandi dia tidak pipis dan aku tak curiga. Tak perlu menunggu waktu berapa lama anaknya ngomong ‘Ini basah nih’. Huaaaa baru juga selesai mandi belum juga ada 10 menit malah bocor duluan.
Walaupun begitu hari ini dia tidur siang berhasil ga ngompol. Entah kenapa dia minumnya ga terlalu banyak kalo siang soalnya pas diajak ke kamar mandi bukannya pipis malah main air -_-
Tidur siang pun aku coba nggak pake pampers, aman. Nah menjelang buka puasa ku khawatir, aku ajak ke kamar mandi ga mau. Aku udah curiga sebentar lagi waktunya dia pup nih makanya aku sering banget ajak ke kamar mandi dan duduk di WC. Ohya aku sebenarnya nekat banget ajarin dia TT soalnya beberapa hari sebelum TT kucoba ajarin dia duduk di WC masih jejeritan nangis. Tapi alhamdulillah hari ini dia mau dong duduk ga nangis. Buat mamak ini sebuah pencapaian dia nggak nangis duduk di WC. Walaupun pupnya masih di celana sih….

Day 3 (26/04/2020)

Hari ini lumayan seneng karena ada progress.. Awal pagi-pagi dia kayak ngerjain bilang mau pup eh pas didudukin suruh ngeden gataunya cuma ngeledek doang sambil cengangas-cengenges. Okeh kuladeni.. Siang hari aku ke rumah kakak yang nggak terlalu jauh dari tempatku tinggal eh ternyata dia bocor di sana hikkksss ngepelin rumah orang deh.. Padahal di jalan udah kutanya “mau pipis gak?” tetep aja bocor..
Nah, malam ini waktu yang paling waspada buatku. Dia biasa pup abis isya. Dua hari kemarin gagal dia pup di celana. Malam ini kuperhatikan dia sambil main sendiri eh ternyata ngeden. Wettss langsung buru-buru kuangkut ke WC. Ternyata udah ada dikit yang keluar di celana tapi dia menuntaskannya di WC. Waah, tak hentinya kupuji dia biar besok pupnya tuntas di WC tanpa mengotori celana dalamnya. Semoga pujian positif yang kulakukan berhasil dihari-hari kemudian. Aamiin

Day 4 (27/04/2020)

Sepertinya anakku belum paham disuruh ngomong kalo mau pipis. Udah 2x hari ini dia bilang mau pipis tapi pas celananya udah basah😭
Gimana ngajarinnya ya? Apa emang anakku belum siap TT? Ada yang bilang nunggu anaknya siap dulu, apakah ini pertanda anakku belum siap dan mamak yang ambi?

Day 5 (28/04/2020)

Ya Allah sungguh hari ini menguras emosi syekaleeehhh… Ku merasa sudah aman karena dia udah mau duduk di WC (at least ga takut). Eehh, ternyata dia berulah dong… Kemarin dia nggak pup, jadi prediksiku hari ini dia akan pup. Dan bener dong orang-orang lagi shalat magrib dia udah bilang mau pup (mamak sempat bahagia akhirnya dia bisa ngomong mau pup sebelum pupnya keluar di celana). Kuajaklah ke kamar mandi, udah disiapin dudukan Elmonya di WC eh dia ga mau dong.. Bilangnya mau pup di lantai aja. Wuaduh, mamak dah mikir ntar gimana bersihinnya. Ampun deh, mamak paksa duduk di WC dan dia terus bilang ga mau sambil mewek. Dia keukeuh minta turun dan jongkok di lantai kamar mandi, ku sudah mencium bau-bau tak sedap tanda pup mau keluar. Akhirnya kupaksa lagi duduk di WC dan begitu terus sampai beberapa kali namun tak kunjung ada hasil. Anaknya dah mewek dan mamak dah senewen. Bapake lah turun tangan, nyamperin ke kamar mandi dan dibiarkanlah dia pup di lantai kamar mandi. Setelah itu? Ya nangis-nangis lah dia liat pupnya segede gitu. Antara sebel sama pengen ketawa sih liatnya haha kocak banget ekspresinya. Seakan-akan mamak ‘menang’ dan ingin berkata “Tuh kaaann, gue bilang juga apeee, disuruh pup di WC kaga mau sih lu tong!”
Memang kuakui tadi ku terbawa emosi sampai memaksa dia harus pup di WC. Ku cuma berdoa dan berharap selepas drama hari ini dia tetap mau toilet training dan ga trauma.. aamiin

Day 6 (29/04/2020)

Menurutku hari ini belum ada progress yang gimana-gimana banget.. Sehabis mandi pagi anaknya masih pipis di celana 2x ga ngomong minta ke kamar mandi🤦‍♀️
Selebihnya aman sampai ke waktu dia pup sehabis magrib. Dia bilang sih mau pup, tapi pas dibawa ke kamar mandi dia ga mau lagi dong didudukin di WC. Segala daya upaya dan rayuan maut pun mamak kerahkan. Mulai dari suruh jongkok di WC sambil berhitung, suruh berdiri di WC sambil dipeluk, sampai jongkok dimana aja asal keluar deh namun dia ga keluar jugaa. Mungkin mood untuk pupnya sudah hilang kali yah, dia nangis-nangis lagi dan mamak sudah kehabisan akal hampir sejam di kamar mandi cuma buat dia mau mengeluarkan pupnya. Keluar kamar mandi pun dengan wajah muram, lalu kembali kupakaikan pampers karena hari sudah larut malam. Anakku, apakah besok moodmu masih timbul tenggelam?

Day 8 (01/04/2020)

Qadarallah mamak sakit.. Badan panas kepala pening.. Haduh, sempat khawatir dan pasrah juga soal TT ini apa bisa lanjut atau tidak. Alhandulillah ada mama yang bantu, jadi pagi-pagi dia bilang mau pup eh semudah itu didudukin di Potty seat nya si Elmo itu dan keluarlah pup itu tanpa drama apapun. Ya Allah, kok sama mamaknya sendiri kayaknya susah bener yaa hikss
Seharian mamak bedrest, jadi urusan TT ada paksu yang bantuin ngajakin pipis tiap jamnya. Malam menjelang, mamak udah ga kuat banget jadi pas jam setengah 9 orang-orang tarawih udah kukasi pampers. Hufft, semoga besok udah lebih sehat

Day 9 (02/04/2020)

Mamak udah agak mendingan nih walaupun belum bisa jejingkrakan normal kayak biasa. Hari ini dia udah 2x aja pipis di celana🤦‍♀️
Bener-bener mesti rajin tiap jam ngajak ke kamar mandi karena dia ngomong mau pipisnya pas udah celananya basah dong, hadeehh…
Soal pup, dia juga masih suka moody kadang mau kadang ga mau duduk di Elmo, kemudian mamak berpikir apakah mamak kudu beli potty training?

Day 11 (04/04/2020)

source: kindpng.com

Akhirnya mamak memutuskan beli potty training. Cari-cari di shopee ada yang bentuknya kayak WC gitu cuma ukurannya lebih kecil. Semoga nanti anaknya mau yah duduk dan ga nangis. Soalnya dia masih pup di lantai kamar mandi dong😫 udah mana pupnya banyak berceceran di berbagai tempat (ga cuma ngeluarin di satu tempat aja), ya ampun mamak lelah bersihinnya.. Tapi Alhamdulillah semakin kesini sudah mulai pinter ngomong kalo mau pipis. Walaupun mamak tetap siaga tiap jam ngajak pipis. Anaknya kadang bilang mau pipis tuh mau pup. Yah yang penting dia udah mau ngomong aja udah syukur alhamdulillah.

Day 12 (05/05/2020)

Potty trainingnya malah dibuat mainan sama bocah -_- Dia nggak mau duduk, aku sih liat dia trauma. Dia selalu nangis-nangis di kamar mandi bahkan kayak nahan keluarin pupnya. Padahal perutnya lagi mules tapi dia kayak takut buat ngeden karena takut liat pupnya sendiri. Kan kasian😩😫
Lingkunganku pun sontak menyerangku dan bilang jangan dipaksa kalau anakku belum siap toilet training. Seketika ku berpikir apa iya anakku belum siap? Selama hampir 2 minggu ini dia udah bisa ngomong mau pipis menurutku ini sebuah kemajuan yang baik. Ibarat udah maju selangkah, aku disuruh mundur dua langkah. Maafkan mamak kalau mamak ambi ya nak. Semata-mata mamak ingin kamu lebih pintar..

Day 14 (07/04/2020)

Kenapa ya mamak jadi ga sabaran.. Ngeliat bocah kayak dia sengaja nyebelin buat ngegoda iman. Diajarin pipis jongkok eh udah bisa tuh balik ngurat bilang nggak mau lalu pipislah berdiri. Mamak pun lagi nggak sabaran akhir-akhir ini jadi bawaannya berantem mulu. Apalagi pas dia diajak ke kamar mandi abis tidur eh malah lari-lari yaudah pas giliran mamak yang mau ke kamar mandi eh dia bocor dong. Marah-marah lagi lah saya… Stok sabar mana stok sabar…
Soal pup akhirnya dia balik lagi pup di pampers. Mungkin aku yang salah dari awal, sekarang dia ga mau jongkok di WC atau Potty trainingnya. Kalaupun jongkok di lantai dia ngedennya ga tuntas karena langsung liatin pup dia dan kemudian menangis. Sampai-sampai dipakein pampers pun dia berdiri nahan ga ngeden padahal udah mules banget itu mungkin takut kalo dia ngeden nanti dia ngeluarin ‘sesuatu’. Mamak jadi bingung harus benerinnya dari mana, sekarang yang penting dia mau ngeden dulu dengan nyaman karena kasian dia nahan pup itu sampai keringat dingin. Yah, setidaknya dari sekarang mamak dah nyiapin hati jika toilet training ini gagal sepenuhnya/belum berhasil dilakukan diusianya yang sekarang.

Yah namanya juga hidup ya kan.. Cerita novel aja ada nggak semuanya happy ending. Apalagi kehidupan yang vhana ini? Mohon doanya ya, mudah-mudahan nanti dia siap pada waktunya dan no drama drama-waktu kumulai TT-ya kembali. Tetap semangat buat mamak-mamak pejuang TT, kudoakan berhasil lancar tanpa kendala berarti 😀

Tips Memilih KB yang Aman

source: health.cleveandclinic.org

Selama pandemi Corona ini ada lelucon yang beredar di kalangan ibuk-ibuk. Mungkin kamu pernah mendengarnya.

Udah tes belom sist?

Udah

Trus hasilnya gimana?

Alhamdulillah aku positif, tapi negatif Corona

Jika muncul pertanyaan, manakah kontrasepsi (KB) yang paling bagus dan aman? Semuanya pastinya memiliki manfaat dan kekurangannya masing-masing😊

Faktanya, ternyata adanya peningkatan angka kehamilan selama pandemi berlangsung. BKKBN mencatat ada 400.000 kehamilan yang tidak direncanakan. Salah satu faktor penyebabnya adalah kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang mengharuskan orang-orang menetap di rumah. Ini juga yang membuat sulitnya mendapatkan alat kontrasepsi karena klinik kesehatan ditutup sementara.

Alat kontrasepsi memang salah satu cara untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Kalau kamu memang belum berniat untuk menambah momongan, dianjurkan untuk menggunakan alat kontrasepsi. Alat kontrasepsi jenisnya beragam. Ada apa saja? Ini dia penjelasannya:

Ada beberapa jenis kontrasepsi yang terbagi menjadi 4 yaitu :

  1. Kontrasepsi alami seperti metode kalender, senggama terputus dan metode alami laktasi
  2. Kontrasepsi non hormon atau kontrasepsi yang sama sekali tidak mengandung hormon seperti kondom dan IUD
  3. Kontrasepsi hormonal atau kontrasepsi yang mengandung hormon seperti pil, suntik dan implan
  4. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti tubektomi (steril pada wanita) atau vasektomi (steril pada pria)

Kita bahas dari yang alami dulu ya..
Pada metode alami ini memiliki kelebihan tidak butuh biaya, alat maupun obat apapun dan juga tidak mempengaruhi berat badan

Kekurangannya ialah membatasi hubungan seksual yang dilakukan secara langsung. Kesalahan perhitungan dapat mengakibatkan kegagalan KB

  1. Metode Kalender : dengan cara menghitung masa subur seorang wanita. Tidak berhubungan pada hari ke 14 dari hari pertama haid terakhir +/- 2 hari karena hal tersebut dapat segera membuat hamil
  2. Senggama Terputus: cara seperti ini dibutuhkan kerjasama yang baik antara suami dan istri. Suami dituntut untuk tidak mengeluarkan cairan sperma ketika waktu ejakulasi dimulai atau maksud lainnya ialah mengeluarkan sperma di luar vagina wanita
  3. Metode Alami Laktasi: pada metode ini cocok untuk wanita yang sedang menyusui ASI Eksklusif tanpa tambahan apapun. Dengan syarat belum haid sama sekali. Jika sudah haid metode ini sudah tidak dapat digunakan lagi

Kedua, kontrasepsi non hormonal yaitu kondom dan IUD:
Sama juga dengan KB alami, untuk KB non hormonal salah satu kelebihannya juga tidak mempengaruhi berat badan dan aman bagi Ibu menyusui

  1. Kondom
    Kondom wanita : Kondom wanita berbentuk plastik yang menyelubungi vagina. Terdapat cincin plastik di ujungnya yang berperan untuk menyesuaikan posisi. Kondom wanita ini tidak dapat digunakan bersamaan dengan kondom pria.

Kelebihan:
> Memberikan perlindungan dari penyakit menular seksual

Kekurangan:
> Kurang efektif dibanding kondom pria
> Dapat menimbulkan bunyi yang mengganggu
> Sekali pakai
> Tingkat kegagalan 21%

Kondom pria : Kondom pria mencegah kehamilan dengan menghalangi masuknya sperma ke dalam tubuh wanita.

Kelebihan:
•Tidak mahal
•Melindungi pengguna dari sebagian besar penyakit menular seksual
•Mudah didapatkan

Kekurangan: Tingkat kegagalan mencapai 15%, terutama jika kondom tidak digunakan dengan tepat. Hanya dapat digunakan sekali pakai

  1. IUD (Intra Uterin Device)
    Atau yg biasa disebut dengan spiral

IUD adalah plastik berbentuk huruf T yang diletakkan di dalam rahim yang berguna untuk menghalangi sperma agar tidak bertemu dengan sel telur.

IUD terbuat dari tembaga, dapat bertahan hingga 5-10 tahun. Apabila belum mencapai 5 tahun tetapi ingin lepas boleh. Namun tidak boleh lebih dari 10 tahun.

Kelebihan:
•Tidak memerlukan perawatan rumit
•Tahan lama

Kekurangan:
•Dapat menyebabkan haid lebih banyak dan lama
•Nyeri pada perut
•Biaya mahal di awal

Ketiga kontrasepsi hormonal :
Salah satu kekurangan KB hormonal dapat mempengaruhi siklus haid (haid jadi berantakan, sering haid atau tidak sama sekali). Untuk berat badan diatas 85 kg tidak disarankan menggunakan KB hormonal😊

  1. Pil
    Pil KB merupakan alat kontrasepsi yang paling umum digunakan dan mengandung hormon progestin dan estrogen untuk mencegah ovulasi. Pil ini dikenal dalam dua jenis utama, dari yang mengandung progesteron saja dan pil kombinasi. Cara kerja pil ialah 1x24jam. Sehingga sebaiknya harus diminum pada jam yang sama

Kelebihan:
Sangat efektif. Tingkat kegagalan atau risiko terjadinya kehamilan hanya 8%.
Melancarkan haid dan mengurangi kram saat haid, dapat juga menghentikan haid, tergantung jenisnya.

Kekurangan:
•Tidak melindungi pengguna dari penyakit menular seksual.
•Dapat mendatangkan risiko seperti meningkatnya tekanan darah, pembekuan darah, bercak darah, dan payudara mengeras.

Beberapa wanita dianjurkan tidak mengonsumsi pil KB, misalnya: yang memiliki riwayat penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung, gangguan hati, kanker payudara atau rahim, migrain, hingga tekanan darah tinggi.

Namun, tersedia juga pil laktasi yg aman digunakan pada Ibu yang sedang menyusui

  1. Suntik KB
    Terdapat dua jenis suntik KB :
    •Suntik KB yang bekerja selama 3 bulan, berisi hormon progesteron dan tidak mempengaruhi produksi asi

•Suntik KB yang bekerja selama 1 bulan berisi hormon progesteron dan estrogen (kombinasi) dapat menghambat produksi asi

Kelebihan: Lebih efektif dan praktis dari pil KB, dengan tingkat kegagalan 3%
Jika digunakan dengan benar, tingkat kegagalan pada suntik KB 1 bulan lebih rendah yaitu kurang dari 1%.

Kekurangan:
•Relatif mahal.
•Suntik KB bulanan perlu memerlukan waktu kunjungan rutin per bulan ke dokter atau bidan.
•Tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual.
•Dapat menyebabkan efek samping seperti bercak darah.
•Beberapa wanita tidak dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi ini dalam beberapa kondisi, misalnya: memiliki riwayat migrain, diabetes, sirosis hati, maupun stroke dan serangan jantung
•Pada umumnya wanita yg menggunakan suntik KB 3bulan tidak haid sama sekali

  1. Implan
    Atau yg sering disebut dengan susuk KB. Tapi susuk ini tidak membuat cantik yaa Buibuuu😅

Kontrasepsi ini berupa benda kecil berbentuk seperti batang korek api yang dimasukkan ke bagian bawah kulit lengan sebelah kiri. KB implan ini secara perlahan  mengeluarkan hormon progestin yang berfungsi mencegah kehamilan selama 3 tahun (boleh lepas sebelum 3 tahun, namun tidak boleh lebih)

Kelebihan:
•Sangat efektif dengan tingkat kegagalan kurang dari 1%.
•Dapat digunakan pada ibu menyusui

Kekurangan:
•Relatif mahal.
•Dapat menyebabkan efek samping seperti haid tidak teratur.
•Dapat menyebabkan memar dan bengkak di awal pemasangan.
•Tidak memberikan perlindungan terhadap penyakit menular seksual.

Keempat Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) seperti tubektomi (steril pada wanita) atau vasektomi (steril pd pria)

Selain tubektomi dan vasektomi, penggunaan IUD dan implan juga termasuk ke dalam MKJP karena sekali pasang dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama

Tubektomi dan Vasektomi merupakan kontrasepsi permanen sebaiknya disepakati bersama dengan pasangan. Biasanya metode ini dilakukan di Kamar Operasi

Disclaimer: Pikirkan risiko serta keunggulan dan kelemahannya untuk kamu dan pasangan. Konsultasikan dengan dokter mengenai kemungkinan untuk menjalani prosedur sterilisasi tersebut.

  1. Tubektomi ialah memotong atau menutup tuba falopi sehingga sel telur tidak masuk ke rahim, sekaligus menghalangi sperma berenang ke tuba falopi. Proses tubektomi dapat dilakukan kapan saja, termasuk setelah persalinan normal atau pun operasi caesar.

Keunggulan tubektomi antara lain :
•Tidak akan mempengaruhi produksi hormon sehingga tidak akan  terjadi perubahan pada gairah seks atau pun menstruasi.
•Hanya perlu satu kali menjalani tubektomi.
•Memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam mencegah kehamilan.

Sementara kelemahan dari prosedur tubektomi, adalah :
•Tubektomi memang memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam mencegah kehamilan, namun beberapa wanita dapat kembali hamil setelah menjalani prosedur ini. Meski demikian, angka kejadiannya terbilang kecil.
•Tidak dapat melindungi dari penyakit menular seksual, sehingga masih diperlukan alat kontrasepsi lain seperti kondom.
•Sulit untuk dilakukan penyambungan tuba kembali apabila wanita yang telah menjalani tubektomi ingin kembali hamil.
•Biayanya relatif besar.

  1. Vasektomi adalah metode kontrasepsi yang dilakukan dengan cara memotong saluran sperma (vas deferens) yang membawa sperma dari testis ke penis. Dengan metode yang menyerupai sterilisasi ini, sperma tidak lagi keluar bersama air mani saat pria ejakulasi

Efektivitas Vasektomi untuk mencegah kehamilan tergolong tinggi yaitu mendekati 100 persen. Dari 10.000 prosedur vasektomi, hanya 15 – 20 wanita dari pasangan pria yang menjalani vasektomi yang akan mengalami kehamilan.

Pada metode vasektomi kelebihan dan kekurangannya hampir sama dengan metode tubektomi.

Semua metode ini adalah cara yang dibuat oleh manusia dan angka keberhasilannya tidak ada yang 100%. Maka daripada itu masih ada kesempatan hamil juga meskipun sudah menggunakan metode steril sekalipun. Jika yang Maha Memberi masih ingin memberi rejeki (hamil) pada kita itulah skenario terbaik dari-Nya🤗

Nah.. jadi sebaiknya sudah tidak perlu lagi ada pertanyaan, kok aku udah pakai IUD tapi masih hamil? Atau Tante ku kok udah steril tapi masih hamil? Semuanya kembali lagi ya, sebaik-baiknya rencana manusia, Rencana Allah lah yang terbaik🥰

Jadi, dari berbagai macam pilihan sudahkah kamu memutuskan mau menggunakan KB apa?

(Materi ini merupakan hasil kulwap dengan homecare Bidan Putri)

Makna Kesabaran Dalam Situasi Sulit

Makna Kesabaran Dalam Situasi Sulit

Tahun 2020 ini dapat dikatakan sebagai tahun yang cukup berat untuk kita semua seluruh warga dunia. Ya, adanya pandemi global Covid-19 sudah membuat geger seluruh warga dunia. Tidak memandang status sosial maupun status ekonomi seseorang. Akibatnya sudah kita rasakan sendiri mulai dari adanya seruan social distancing, WFH (work from home), serta baru-baru ini khusus di ibukota Jakarta diterapkan PSSB (Pembatasan Sosial Skala Besar).

Lalu bagaimana tanggapan masyarakat? Tidak sedikit yang mengeluhkan keadaan ini. Akankah ada diantara kamu yang kangen dengan suasana tempat kerja? Adakah diantara kamu yang kangen menghabiskan waktu dengan nongkrong di cafe atau bahkan hanya sekedar jalan-jalan di mall? Adakah diantara kamu yang kangen bercengkrama dengan sanak saudara maupun sahabat karib?

Kemungkinan besar hal-hal tadi belum bisa kita lakukan dalam waktu dekat ini. Bahkan sudah bisa dipastikan Bulan Ramadhan tahun ini tidak ada buka bersama dan juga shalat tarawih di masjid. Namun, hey kawan, marilah kita lihat sisi lain dari adanya peristiwa ini. Bukankah di setiap peristiwa ada hal positif yang dapat kita petik?

sabar dan syukur
source: pinterest

Dimulai dari diri ini sendiri, aku berusaha merefleksikan keadaan saat ini dengan apa saja hal positif yang aku dapatkan.

 

1. Dekat Dengan Anak

Karena di rumah, tentu hikmah paling utama adalah kita bisa ‘membayar’ waktu-waktu kemarin disaat kita meninggalkan keluarga. Sekarang adalah saatnya ‘membalas’ waktu-waktu tersebut. Perhatikan kembali milestone apa yang kemarin sempat terlewati? Sekarang kita punya waktu lebih banyak untuk itu. Bismillah, aku pun berniat mau mengajari anakku untuk toilet training dan menyapih. Mohon doanya ya..

2. Beres-Beres Baju

Merasa rumah ga pernah beres? Nah, ini adalah saat yang tepat buat beres-beres rumah. Selalu ada alasan untuk menghindari beres-beres lemari baju. Kenapa? Karena sebenarnya mau  nggak mau harus ada barang-barang yang kita relakan supaya keluar dan akhirnya lemari kembali rapi. Beres-beres lemari baju itu salah satu self healing loh, kita sama saja membersihkan ‘jiwa psikologis’ kita. Nah, kamu bisa baca buku Marie Kondo soal berbenah baju serta berbenah diri ini.

marie kondo
source: bacaan-indo.blogspot.com

3. Jadi Sering Masuk Dapur

Kurasa hampir semua ibu-ibu merasakan ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita jadi jauh lebih rajin scrolling resep masakan. Mau itu makanan berat ataupun kue-kue cemilan apapun yang sifatnya gampang dan simple. Betul ibuk-ibuk? Kondisinya semua anggota keluarga di rumah, mau delivery makanan pun belum tentu buka kemudian pikir-pikir lagi karena sedang ada wabah di luar sana. Urusan perut memang nomor satu, belajar masak dan coba resep ini itu ga masalah. Nantinya ini juga bisa jadi salah satu alasan bikin paksu betah di rumah setelah wabah ini mereda kan? 😉

4. Jadi Rajin Olahraga

 

Nah, kalo ini lanjutan dari poin sebelumnya. Karena urusan perut nomor 1, tentu kita jadi kudu masuk dapur, itu artinya makan terus dan ketika cek timbangan rasanya mau menjerit seketika. Geser kekanannya kok heboh bangeeetttt hikss.. Untuk itu perlu lah badan kita ini digerakkan supaya baju tetap muat tetap sehat dan bugar. Baru-baru ini aku mencoba “Tabata Workout” dan hasilnya baju kuyup sekuyup-kuyupnya. Aku cuma ngikutin gerakan instrukturnya sebanyak 4 set selama kurang dari setengah jam. Mungkin kamu bisa coba, ini salah satu jenis olahraga yang mudah dan (katanya) bisa mengurangi berat badan.

5. Punya Berbagai Macam Aplikasi Video Call

Sekarang kita juga jadi melek teknologi karena work from home mengharuskan kita menggunakan aplikasi video call untuk tetap berkoordinasi. Jadi tau kan ada aplikasi video call selain whatsapp tentunya seperti zoom, microsoft team, dan webex. Namun, akhirnya penggunaannya tidak hanya untuk rekan kerja saja tapi bisa juga untuk keluarga. Karena wabah ini aku dan keluarga sempat arisan online menggunakan aplikasi zoom hihihi intinya silaturahim tetep terjalin.

Jadi marilah nikmati momen-momen ini dan lakukan hal-hal positif yang belum tentu kita akan rasakan setiap saat.

Tiada nasihat lain yang bisa diberikan kecuali sabar dalam menghadapi (kalau boleh dikatakan) musibah saat ini. Mengutip pernyataan Ustad Bobbi Herbowo (Pimpinan Yayasan Askar Kauny) bahwa bahwa kesabaran yang sesungguhnya adalah ketika saat manusia dihadapi oleh situasi yang sulit dan yang keluar dari mulutnya adalah asma Allah bukan keluhan dsb. Jadi, sudahkah kita menyebut asma-Nya? Ataukah justru keadaan ini malah membuat kita malah menjauh dari-Nya akibat kesibukan duniawi semata? Wallahu a’lam bissahwab.

#Notetomyself

Hai, 2020!

Hai, 2020!

Udah Bulan Maret sih, mungkin agak telat tapi gapapa ya…

Awal tahun biasa dimulai dengan semangat baru, tampilan baru, pemikiran baru, wajah baru, dan juga resolusi baru. Biasanya awal tahun memang dijadikan momentum untuk merancang kembali tujuan hidup khususnya setahun ke depan. Memang tidak setiap orang memiliki resolusi dalam hidupnya. Aku pribadi juga baru beberapa tahun belakangan ini ikut buat resolusi. Kenapa tiba-tiba ikutan buat resolusi sih? Ini karena aku melihat instagram story salah satu temanku soal resolusi. Dia repost instagram story dari salah satu selebgram @fellexandro. Siapa dia? Jangan tanya, aku juga nggak tau. Cari tahu sendiri aja ya haha

Tak terlalu peduli soal siapa dia, tapi dia buat igstory yang sangat insightful (setidaknya buat aku). Dia berbicara mengenai resolusi tahunan. Yang sering terjadi adalah banyak resolusi yang hanya sekedar tulisan saja tanpa ada kelanjutan dan bahkan capaiannya. Berdasarkan survey yang ada di Amerika, 40-45% orang membuat resolusi tahunan. Resolusi yang biasa dibuat adalah menurunkan berat badan, berhenti merokok, sampai cara mengelola keuangan dengan baik. Kenyataannya, baru di dua minggu awal 25% dari mereka mengabaikan resolusinya. Alias nggak nerusin lagi.

Jadi cuma anget-anget tai ayam doang ya?

Emang. Hanya di awal saja semua orang berbondong-bondong membuat resolusi tahunan tapi dalam pelaksanaannya hanya bertahan 2 minggu awal.

Nah, balik lagi ke selebgram ini. Dia memperhatikan salah satu tokoh dalam membuat resolusi. Sebut saja Mark Zuckerberg. Mark berhasil membuat resolusi tahunan dan hasilnya pun memang tercapai sesuai dengan target tersebut. Pertanyaannya, bagaimana cara membuat resolusi yang baik dan benar sehingga benar-benar bisa tercapai di akhir tahun? Yuk kita simak poin-poin berikut ini:

1. FOKUS
Berkaca dari pengalaman Mark membuat resolusi, cukuplah membuat SATU saja resolusi tahunan. Satu tapi fokus, daripada buat 10 resolusi tapi tidak ada yang tercapai satu pun. Di tahun 2015, Mark Zuckerberg mempunyai resolusi yaitu membaca buku tiap 2 minggu sekali. Nah, ini dia hasilnya:

MARK BOOKLIST (1)
sumber: wikipedia

MARK BOOKLIST (2)

Gokil kan, dia benar-benar ada datanya buku-buku apa yang dia baca karena fokus cuma satu resolusi aja.

2. SPESIFIK
Nah, sebenarnya prinsip membuat resolusi mirip-mirip kan dengan membuat target. Prinsipnya sama, harus spesifik agar targetnya tercapai. Jadi membuat resolusi sudah bukan lagi “Saya mau kurus” atau “Saya tidak akan boros”. Lalu bagaimana caranya untuk membuat target yang spesifik? Pernah dengar analisis SMART, gaes? SMART adalah akronim dari Specific, Measurable, Achieveable, Relevan, Time-Bound. Jadi kalau ada yang membuat resolusi “Saya mau kurus di tahun 2020 ini” sudah spesifik atau belum? Tentu saja jawabannya belum. Kita coba buat target yang sesuai dengan analisis SMART sehingga (misalnya) menjadi “Saya ingin lari di taman selama 60 menit setiap Hari Sabtu dan Minggu sepanjang tahun 2020”

SPESIFIC: Tidak hanya olahraga saja, tapi jelas olahraganya lari
MEASUREABLE: Dapat diukur, 60 menit bisa dihitung menggunakan stopwatch
ACHIEVEABLE: Kira-kira target yang dibuat bisa diraih nggak? Satu jam lari masih masuk akal kan?
RELEVAN: Nah, ini sifatnya subjektif. Apakah targetnya sesuai dengan kemampuan kamu?
TIME-BOUND: Ada rentang waktunya, Hari Sabtu dan Minggu sepanjang tahun 2020

3. MAKE IT PUBLIC
Kadang kita tuh butuh publikasi juga biar tidak hanya sekedar omongan kosong belaka. Poinnya dishare adalah bukan untuk riya maupun pamer tapi bisa dijadikan motivasi eksternal karena banyak orang tau dan (asumsinya) orang akan menanyakan mengenai resolusi kita apakah sudah tercapai atau belum. Jadikan ini sebagai tantangan buat diri sendiri bukan hanya sekedar resolusi semata. Biar ada gregetnya gituuu hehehe

Nah, lo ngomong panjang lebar gini udah punya resolusi belum?

Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, aku punya niatan baik yang selama ini tertunda lama karena kesibukan dan alasan-alasan lainnya yang tidak bisa disebutkan di sini. Insya Allah di tahun 2020 ini niatanku adalah ingin ‘mengisi’ rohani dengan mengikuti kajian minimal seminggu sekali. Pernah dengar istilah liqo? Dulu aku sempat punya, namun karena mentorku pindah domisili ke luar Jawa mengikuti suaminya akhirnya bubar begitu saja. Nah, aku pengen punya grup ngaji kecil kayak gitu lagi. Doain ya biar bisa terwujud 🙂

Akhir kata, kalau di twitter pertanyaannya kan “ini ga ada yang mau mutual-an apa?”
Nah, di sini izinkan diri ini bertanya “ini ga ada yang mau kajian bareng apa?” 😉

Content Creator is Not (Only) Youtuber

Diriku ini baru menemukan sebuah fakta baru yang mencengangkan. Anak SMP zaman sekarang ternyata mengakui bahwa mempunyai 4 akun di satu social media mereka. Wow!

1st: akun jaim
2nd: akun aib
3rd: akun buat bff
4th: akun stalking


Ini adalah salah satu fakta yang terungkap saat aku menjadi moderator dalam acara Parents Day. Dalam acara Parents Day beberapa waktu yang lalu, ada berbagai macam kelas profesi yang dibuka untuk anak-anak. Nah, kemarin aku kebetulan mendampingi di kelas profesi Content Creator yang menghadirkan dua pembicara yaitu Yudhistira Haryadi dan Aulion.

Pembicara di kelas profesi, Aulion (ki) dan Yudhistira Haryadi (ka)

Jujur saja sebelumnya aku ga kenal keduanya. Jadi, sebelum acara sibuk googling untuk cari tau profil mereka supaya terlihat profesional dong hehehe

Berdasarkan hasil penelusuranku, Yudhistira Haryadi ini seorang pekerja kreatif lah pokoknya. Dia adalah Graphic Designer, pernah mengurusi event juga, termasuk drummer juga. Lengkap lah pokoknya. Ohya, kalau kamu suka dengerin Spotify, band dia yang jadi cover di bagian musik ‘indie’.

Lanjutlah penelusuranku ke pembicara kedua yaitu Aulion. Nah, kalau Aulion kita gampang sekali menemukannya di Youtube. Dia memiliki akun Youtube dan follower yang juga cukup banyak. Pertama kali liat Youtube-nya, “Wow, so colourful“. Yep, memang itulah ciri khas atau personal branding yang dikuatkan oleh Aulion untuk Youtube-nya. Spesialisasi Youtube Aulion adalah stop motion video. Ada yang tau? Stop motion adalah teknik mengabungkan foto-foto sehingga terbentuklah menjadi sebuah video yang bergerak. Untuk membuat video stop motion, Aulion mengaku perlu membuat 2000 foto! Butuh kesabaran tingkat dewa nggak sih?

Dari segi usia, para pembicara ini masihlah tergolong muda. Yudhis dikisaran usia 20-an akhir, sedangkan Aulion baru lulus kuliah. Jadi, sebelas dua belas lah sama moderatornya hehehe 😀

Oke, kemarin saat acara pemaparan pertama dilakukan oleh Yudhis. Saya suka pemaparan dia mengenai industri kreatif di Indonesia khususnya mengenai content creator. Profesi content creator adalah profesi yang baru muncul 4 – 5 tahun belakangan ini. Sampai saat ini pun memang belum ada jurusan perkuliahan khusus yang mengajarkan mengenai content creator. Yudhis mengaku ia mempelajari mengenai content creator setelah ia terjun ke dunia kerja secara otodidak. Berdasarkan penuturan Yudhis, ada beberapa tahapan untuk membuat konten:

  • Apa platform yang dipilih untuk membuat konten?
  • Siapa target pasarnya?Jenis konten apa yang mau digarap?Apa personal brand yang mau ditonjolkan dari akun tersebut?

    Nah, prosesnya kurang lebih begitu. Ini bisa  diterapkan pada social media yang kita punya baik itu untuk pribadi maupun brand jualan kamu.

    Yudhis mengatakan bahwa konten adalah suatu pesan yang memiliki tujuan untuk dikomunikasikan atau disampaikan kepada orang lain. Bentuk kontennya macam-macam bisa dalam bentuk tulisan, gambar, maupun video. Nah, tugas seorang content creator lah yang harus paham bagaimana membuat konten dalam berbagai macam bentuk dan berbagai platform social media tersebut.

    Beralih ke pembicara kedua yaitu Aulion, ia lebih spesifik membicarakan mengenai kontennya di Youtube. Jika Yudhis lebih membeberkan profesi content creator secara teoritis, Aulion menjelaskan untuk prakteknya. Dia bercerita bagaimana awal mula ia membuat video stop motion. Ia menampilkan progress video yang telah ia buat dimulai dari pertama kali hingga menjadi seperti sekarang. Video stop motion yang pertama kali ia buat sangatlah simple dengan menggunakan balok dari uno stackto yang dialasi kertas koran. Lalu dalam video tersebut ada narasi yang menceritakan bahwa si balok uno stackto itu sedang mencari temannya. Aulion pun tertawa geli sendiri saat melihat kembali video stop motion perdananya itu.

    Namanya juga pesertanya bocah SMP, liat ada seleb dikit heboh deh. Saat Aulion menjelaskan di depan kelas, banyak anak-anak yang sudah menunggu di depan sambil meneriaki namanya. Sosok Aulion yang humble pun akhirnya merespon panggilan bocah-bocah tersebut disela-sela penjelasannya di depan kelas. Selesai penjelasan, Aulion pun dikerubungi bocah-bocah yang ingin foto bareng dan minta tanda tangan.

    Kesimpulan dari kelas profesi content creator yang saya masuki adalah jika ingin menjadi content creator yang terpenting adalah memiliki jiwa kreativitas yang tinggi. Orang-orang yang saya temui kemarin sudah terbukti mereka memiliki kreativitas yang tinggi dari berbagai macam karya mereka selama ini. Didukung lagi terbukti saat di depan kelas, tangan mereka berdua tidak bisa diam dan sibuk membuat bentuk dari kertas penutup gelas masing-masing. Saat saya tegur dengan mengatakan “Memang ya orang kreatif otaknya nggak bisa nganggur dikit, ada aja yang dipegang dan dibuat”, mereka pun membalasnya dengan tertawa dan mengatakan “Ah, ibu bisa aja” 😁😁

    Pengalaman Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan

    Pengalaman Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan

    Berurusan sama institusi pemerintah itu buatku adalah hal yang perlu diminimalisir. Males aja gitu, mesti berurusan sama birokrasi dengan segala aturan plus antriannya yang biasanya mengular. Namun kali ini, mau tidak mau, aku harus berurusan dengan pemerintah yaitu dengan BPJS Ketenagakerjaan. Sebenarnya ini adalah dana pensiun namun bisa dicairkan tanpa harus menunggu usia pensiun si pemilik.

    Kejadian ini terjadi 3 tahun yang lalu, aku mau sharing aja ceritanya siapa tau ada yang membutuhkan informasinya. Awalnya aku yang buta sama sekali mengenai prosedur ini melihat status temanku di path.

    yarri path
    Ya Allah zaman dulu masih ada path haha

    **

    Dari status dialah aku langsung bertanya sama temanku yang sudah lebih dulu mencairkan dana BPJS Ketenagakerjaan (dulu namanya Jamsostek). Begini isi chatku dengannya:

    yarri-wa.png

    Thanks kak, dia sangat informatif sekali menjawab pertanyaanku. Liat sendiri kan aku cuma nanya sebaris dia jawabnya sangat rinci dan jelas sekali hahaha

    Oke, jadi berbekal informasi itulah aku beranikan diri untuk mencairkan dana BPJS Ketenagakerjaanku. Karena situasi temanku saat Bulan Ramadhan, jam 4 pagi pun orang sudah banyak yang mengantri. Aku berpikir kayaknya ga bakal sanggup keluar dari subuh demi ngantri ginian. Jadi datanglah aku pagi-pagi (tapi ga subuh juga) ke kantor BPJS Ketenagakerjaan di matraman. Sampai sana aku udah ga berharap dapat kuota sebenarnya, jadi bertanyalah ke pak satpam di depan. Kurang lebih begini percakapannya:

    PS: Pak Satpam

    Sy: Saya

     

    PS: Ada yang bisa dibantu, bu?

    Sy: Ya pak, saya mau mencairkan BPJS Ketenagakerjaan

    PS: Masih bekerja?

    Sy: Tidak pak.

    PS: Ibu kuota hari ini sudah penuh, seharusnya ibu datang lebih pagi

    Sy: Oh gitu pak, prosedurnya memang seperti apa untuk pencairan dana BPJS Ketenagakerjaannya?

    PS: Jadi ibu datang pagi-pagi untuk ambil nomor antrian, setelah itu saat loket sudah dibuka namanya akan dipanggil.  Blablablabla (panjang deh aku sampe lupa bapaknya ngomong apa aja)

    Sy: Wuaduh.. Mesti pagi-pagi ya pak..

    PS: Iya, tapi ibu mau yang lebih gampang?

    Sy: Wah, gimana tuh pak?

    PS: Ibu bawa berkas-berkasnya?

    Sy: Bawa pak, lengkap. (Semua berkas yang temanku bilang udah kusiapkan)

    PS: Ibu punya Bank BJB?

    Sy: Gak punya pak

    PS: Yaudah gpp, ibu tau Bank BJB di matraman? Di ruko sebelum perempatan lampu merah matraman. Nah, ibu datang ke sana dan langsung ketemu satpamnya bilang aja mau mencairkan dana BPJS Ketenagakerjaan. Nanti ikuti prosesnya saja isi formulir dan lain sebagainya. Insya Allah satu jam bisa selesai.

    Sy: Wah, makasih banyak infonya pak.

    Alhamdulillah ketemu bapak yang baik hati, namanya Pak Agus Kurnia. Terima kasih pak, semoga dirimu diberikan rezeki yang lancar dan dilindungi terus sama Allah..

    Bahkan sampai aku mau pamit pun dia masih nanyain loh “Ibu tau ga tempatnya?” dan berusaha menjelaskan jalannya hehehe

    Berangkatlah diriku menuju Bank BJB matraman sesuai arahan pak satpam. Sampai sana bertemu pak satpam dan aku ikuti seluruh petunjuk darinya. Kita akan disuruh mengisi formulir untuk membuka rekening Bank BJB dan menunggu pembuatan tabungan sekaligus proses pencairan BPJS Ketenagakerjaan. Sesuai perkataan Pak Agus Kurnia, kurang lebih aku hanya satu jam saja di sana. Setelah buku tabungan dan katu atm kupegang, diinfokan dana akan cair selama 2 minggu hari kerja. Ga perlu lagi berurusan sama birokrasi yang ribetnya minta ampun. Alhamdulillah semua berjalan lancar, saking lancarnya duitnya pun langsung hilang seketika :’)

    Sharing is caring ^^

    5 Tipe Sebah

    Sebah apaan sih?

    Ada yang pernah denger kata ‘sebah’ sebelumnya?

    Di keluarga, aku menyebut salim atau cium tangan itu dengan sebutan sebah. Jadi ada tradisi di keluarga setelah mandi pagi atau sore kita disuruh sebah ke orang tua. Sebelum keluar rumah ataupun masuk ke rumah pun kami diajarkan untuk sebah ke orang tua.

    Di Indonesia cium tangan juga menjadi sebuah budaya atau tradisi. Di sekolah khususnya masih banyak kita temukan siswa yang mencium tangan gurunya. Intinya, cium tangan kita lakukan kepada guru, orang tua atau pada orang yang lebih tua dari kita sebagai bentuk pernghormatan.

    Nah, timbullah pemikiran kenapa sih sebutan cium tangan atau sebah itu? Emang dari bahasa apa sih? Penasaran lalu coba googling, namun hasilnya pun nihil. Lalu iseng bertanyalah ke suami (dia bisa Bahasa Arab), sebah itu dari Bahasa Arab kah? Dia bilang, sepengetahuan dia, enggak ada tuh Bahasa Arab sebah. Mungkin, lagi-lagi mungkin, berdasarkan analisis pribadi sebah diambil dari kata Sobakhul Kheir (Selamat pagi). Sobah lalu bergeser menjadi sebah. Itulah mengapa juga dalam tradisi sesudah mandi pagi kami disuruh sebah pada yang lebih tua. Wallahu a’lam.

    Asal Mula Cium Tangan

    Di atas aku sudah cerita sedikit mengenai sebah dalam budayaku. Sekarang, aku mau membahasnya secara lebih global dengan istilah cium tangan. Dari segi agama islam, hukum cium tangan adalah mubah (boleh).

    عن أسامة بن شريك قال: قمنا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقبلنا يده

    “Dari Usamah bin Syarik, kami bertemu Rasulullah lalu kami mencium tangannya” (HR. Ibnul Muqri dalam Taqbilul Yad, berkata Ibnu Hajar dalam Al-Fath sanad nya kuat).

    Cium tangan menjadi budaya di Indonesia yang biasa dilakukan oleh yang muda kepada yang tua. Selain itu kepada orang yang dianggap alim atau berilmu. Dapat kita temukan bahwa biasanya para murid mencium tangan gurunya.

    Sebenarnya budaya ini tidak ada yang salah dan dapat dikatakan sebagai budaya yang baik. Permasalahannya adalah bagaimanakah cara mencium tangan yang benar? Saat ini sering ditemukan berbagai macam gaya dalam mencium tangan. Berikut beberapa tipe cium tangan yang aku temukan:

    1. Cium Tangan Menggunakan Mulut

    Cium tangan jenis ini banyak ditemui di negara barat yang diperuntukkan untuk lawan jenis. Biasanya dilakukan oleh laki-laki kepada wanita yang dikaguminya. Mereka akan sedikit membungkukkan badan lalu mendekatkan bibirnya (ada yang tidak sampai menyentuh) ke tangan perempuan. Di Indonesia pun bisa kamu temukan yang seperti ini loh, pernah lihat?

    1. Cium Tangan Menggunakan Pipi

    Nah ini, aneh enggak sih? Aku tuh pas lihat ada anak yang cium tangan ke orang tua, guru, atau ke orang yang lebih tua dari dia tuh tangannya ditempel ke pipinya. Pipi, iya pipi. Kenapa ke pipi sih? Mau ngasih tau kalo pipinya tembem?

    WhatsApp Image 2019-09-04 at 1.23.29 PM (2)
    http://www.instagram.com/katamuslimah.id

    1. Cium Tangan Menggunakan Jidat

    Aku perhatikan ini juga tipe salaman yang cukup ‘populer’ digunakan sama anak-anak. Cium tangannya ditempel ke jidat. Haduh, haduh bro sist mau sujud?

    WhatsApp Image 2019-09-04 at 1.23.29 PM (1)
    http://www.instagram.com/katamuslimah.id

    1. Cium Tangan Bolak-Balik

    Bolak-balik nih, bener-bener cium telapak dan telapak tangan hehe. Biasanya ustad-ustad yang dicium seperti ini sama muridnya. Mungkin mereka melakukan ini sebagai bentuk takzim kepada gurunya.

    1. Cium Tangan Menggunakan Hidung

    Menurutku, cium tangan yang benar itu ya tangannya ditempel ke hidung. Secara logika, dari kata ‘cium tangan’ saja, cium itu kan menggunakan indra penciuman. Manusia mencium menggunakan hidung, bukan?

    WhatsApp Image 2019-09-04 at 1.23.29 PM
    http://www.instagram.com/katamuslimah.id

     

    Lalu pertanyaannya, Menurut kamu cium tangan yang benar itu yang seperti apa sih?

    Buat Anak Kok Coba-Coba?

    Hayooo denger kalimat ini jadi ingat apa hayooo? Hahahaha kalimat yang ada di judul ini sih sebenarnya salah satu tagline sebuah brand yang menurutku berhasil mencuri perhatian masyarakat. Enggak usah sebut merk yah, nanti dikira endorsement lagi😜

    Dari sisi iklan dan branding, kalimat ini menang banget dan jadi top of mind orang-orang. Tapi aku bukan mau bahas kalimat iklan itu melainkan dampak dari kalimat tersebut.

    Dampak apa sih? Kalimat gitu aja kok, lebay amat sih

    Ya, dampaknya ada buatku dan menjurus ke negatif sih. Jadi gini, sekalian mamak mau curhat boleh yah :))

    Aku punya anak laki-laki yang lagi lucu-lucunya. Iya luci, kadang bikin ngelus dada juga wakakak
    Sebagai mamak muda (ga mau dibilang tua :p) apalagi ini anak pertama, pasti banyak baca sana-sini, nanya sana-sini, gabung bersama mamak-mamak yang lain seputar info dunia parenting. Nah, ternyata ilmu soal parenting ini sudah jauh berkembang dibandingkan yang lalu serta banyak mahzabnya.

    Lalu mulailah sebuah persoalan, mamak kebingungan dengan banyaknya informasi ini. Dulu zaman sekolah kayaknya sumber belajar ya guru sama perpustakaan aja deh, terbatas sih tapi jadi jelas mau kemana tujuannya. Nah sekarang, ilmu dan informasi terbentang lebar dengan adanya internet. Kekurangannya mamak jadi kebingungan sendiri mau ngikut yang mana, harus lebih jeli mensortir dan menyaring berbagai informasi yang didapat.

    Balik lagi soal ilmu parenting ini, aku sekarang lagi menghadapi masa-masa ngasih makan anak. Zaman dulu ngasih makan anak mah udah dari umur anak 3 bulan. Dikasih aja tuh pisang dikerok. Nah sekarang? Tidak semudah itu, Fergusso!

    Kalo menurut dokter zaman sekarang, MPASI (Makanan Pengganti ASI) diberikan setelah anak usia 6 bulan karena kandungan dari ASI ibu di usia 6 bulan sudah tidak mencukupi bagi si anak makanya perlu ditambah kandungan-kandungan lain yang berasal dari makanan. Kandungan yang seharusnya diberikan itu karbohidrat, protein (ini penting, untuk mencegah stunting), lemak, dan vitamin. Ada juga yang MPASI dini untuk kasus-kasus tertentu misal berat badan (BB) anak yang kurang dari target.

    Nah, pemberian makanan untuk anak ini juga bervariasi modelnya. Ada orangtua yang strict sama makanan homemade alias bikinan rumahan dan ada juga beli yang instan tinggal seduh air panas aja. Sejauh ini aku jarang banget nget kasih anak bubur instan jadi pasti bikin sendiri.

    Gini nih mamak-mamak yang belum biasa ke dapur tapi mesti masak buat anaknya. Sehari dua hari sih masih oke, seminggu dua minggu mulai bingung masak apa lagi yah hahaha
    Sebagai mamak masa kini cobalah saya googling cari-cari inspirasi menu buat MPASI anak, eh dapet ternyata banyak mamak-mamak yang udah kasih anaknya bebas banget. Segala tempe goreng, santan, udang, telur juga dikasih. Prinsip MPASI zaman sekarang ada istilahnya menu 4 bintang. Isinya ada karbohidrat, prohe (protein hewani), prona(protein nabati), dan lemak. Jadi mamak masak untuk menu keluarga sekaligus untuk si kecil jadi bedanya sebelum masakan dibumbui gula dan garam, makanan dipisahkan untuk si kecil.

    Disinilah kegalauan mamak-mamak ini. Teori para dokter zaman sekarang ini sangat bertolak belakang dengan teori mamak-mamak zaman dulu. Bahan-bahan yang mamak-mamak zaman dulu gunakan sangat terbatas sehingga terasa menu yang diberikan itu-itu saja. Sebagai anak yang taat (dan juga awam) nurutlah mamak sama nyokap. Ga boleh santan, jangan dulu ikan, jangan dulu telur, dll. Pas ingin coba menu baru ke anak, tercetuslah kalimat itu “Buat ke anak kok coba-coba sih”.
    Laaahh, bhaiiqqqueeee…..

    Awalnya ku pikir korban iklan nih, tapi pas aku ingin juga mencoba produk baru buat anak eh tanggapannya kurang lebih juga gitu. Trus aku bingung, wajar dong ‘mencoba’ sesuatu yang baru untuk anak. Ini anak pertama, aku belum punya pengalaman sebelumnya dan reaksi tiap anak pun beda-beda. Lalu kalau bukan ‘mencoba’ kata apa yang tepat untuk menggambarkannya?

    Kalimat iklan “Buat anak kok coba-coba” ini menggambarkan seakan-akan anak itu kelinci percobaan dan si ibu berdosa besar jika mencoba produk untuk diberikan ke si kecil. Karena anak-anak ini tidak berdosa dan tak tau apa-apa, maka harus diberikan yang sudah pasti-pasti saja seperti kebanyakan orang. Kalau gitu sebagai orangtua kita belajarnya darimana? Bukankah setelah kegagalan atau kesalahan ada hal yang disebut resiko? Jika salah ya perbaiki dan jangan diulangi. Rasanya jadi ibu itu tuntutannya berat sekali, akankah harus seperti yang Andra and The Backbone bilang yaitu menjadi “Manusia Sempurna”?